“Sudahkah kita khusyuk dalam sholat kita?”

Dalam Al-Quran Surah Al-Mu’minun ayat 1 – 2, Allah berfirman, „Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman yaitu orang orang yang khusyu‘ dalam sholatnya“. Menurut tafsir Ibnu Katsir, orang orang yang khusyu‘ atau khaasyi’un dalam ayat ini adalah orang orang yang takut kepada Allah namun mereka juga penuh ketenangan. Dari `Ali bin Abi Thalib, „Yang dimaksud dengan khusyu‘ disini adalah ketengangan hati“. Sedangkan al-Hasan al-Bashri mengungkapkan bahwa kekhusyu’an orang orang beriman itu berada di dalam hati mereka sehingga karenanya mereka menundukkan pandangan serta merendahkan diri mereka. Khusyu‘ dalam sholat hanya bisa didapatkan apabila seseorang memusatkan diri dan menyibukkan diri dalam sholatnya, artinya, melupakan hal hal lain yang tidak berhubungan dengan sholatnya dan mementingkan sholatnya daripada hal yang lain. Dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 45-46 juga dijelaskan, bahwa orang yang khusyu‘ adalah orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah dan hanya akan kembali kepada Nya kelak.

Bagaimana cara menghadirkan khusyu‘ dalam shalat? Khusyu’ itu sudah dimulai sejak dari takbiratul ihram. Takbiratul ihram adalah gerakan mengangkat kedua belah tangan serta membaca takbir sebagai tanda dimulainya shalat. Saat melakukan takbiratul ihram dihadirkan pula dalam hati niat shalatnya. Dalam niat ini harus menghadirkan beberapa hal, yaitu : kesadaran atau kesengajaan, jenis shalatnya, apakah itu shalat fardhu atau shalat sunnah, apakah itu shalat jama’ atau qasar, dan menentukan status makmum. Sedangkan hal hal yang hukumnya sunnah dalam niat antara lain menyertakan jumlah rakaat dan kata-kata menghadap kiblat. Niat di lakukan di dalam hati namun takbir harus seminimal minimalnya bisa didengar oleh telinga sendiri. Takbiratul ihram yang sempurna adalah kunci dari kekhusyu’an shalat menurut sebagian ulama. Ketidaksempurnaan dalam awal shalat bisa mempengaruhi seluruh shalatnya.

Khusyu’ ketika sedang melaksanakan shalat bisa dibagi menjadi dua jenis, khusyu‘ dalam hati dan khusyu‘ dalam badan. Khusyu‘ dalam hati artinya tidak menghadirkan hal hal yang tidak berhubungan dengan shalat di hati dan khusyu‘ dalam badan artinya tidak melakukan gerakan-gerakan diluar gerakan shalat, jika diperlukan pun maka gerakannya tidak boleh berlebihan. Contoh gerakan yang tidak diperbolehkan adalah saat shalat menggaruk pipi berkali kali dengan kelima jari sekaligus. Gerakan tersebut ditakutkan akan mengurangi ke khusyu’an dalam shalat dan mengurangi pahala shalatnya. Sebaiknya apabila merasa gatal di pipi saat shalat, digaruk perlahan lahan dengan satu jari saja dan setelah itu kembali ke posisi shalat semula dengan tenang.

Bagaimana shalat yang tidak khusyu‘, apakah sah? Shalatnya tetap sah, karena khusyu’ bukan merupakan salah satu rukun dalam shalat. Namun tidak mendapat pahala. Seperti kutipan perkataan Hasan bin `Athiah radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “sesungguhnya ada dua orang dalam satu shalat, akan tetapi perbedaan keutamaannya (pahala) bagaikan langit dan bumi.” Penyebab perbedaan pahala yang dimaksud disini adalah karena kedua nya shalat tetapi yang satu dengan khusyu’ sedangkan yang lain tidak dan disini tidak disebutkan bahwa yang tidak khusyu’, shalatnya tidak sah. Keduanya sama sama sah.

Apakah khusyu’ itu harus 100% dari awal sampai akhir shalat? Tidak, karena khusyu’ itu bukan salah satu rukun shalat. Namun khusyu’ itu perlu dihadirkan walaupun hanya dalam sebagian shalat saja, misal dalam takbiratul ihram. Ada berbagai pendapat mengenai hal ini dan pendapat yang ini merupakan pendapat yang lunak.

Kiat-kiat khusyu’ dalam shalat:

  1. Dalam hadits dari Anas radhiyallahu anhu disebutkan, „jika makan malam telah tersajikan, maka dahulukan makan malam terlebih dahulu sebelum shalat magrib. Dan tak perlu tergesa gesa dalam menyantap makan malam kalian.” (HR. Bukhari no.673 dan Muslim no.557). Boleh mengamalkan hadits ini jika setelah makan masih ada waktu untuk shalat magrib dan telah memenuhi semua syarat wajib untuk shalat.
  2. Menyingkirkan segala sesuatu yang mengganggu shalat sebelum shalat.
  3. Makruh hukumnya menahan hadast ketika shalat, maka sebaiknya ke kamar mandi dulu sebelum shalat. Hal ini berlaku hanya jika setelah dari kamar mandi masih ada waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat dan tidak tergesa gesa.
  4. Melamakan ruku‘ dan sujud. Orang kadang terburu buru dalam melakukan gerakan ruku‘ dan sujud karena gerakannya yang berulang ulang dan bacaannya yang pendek. Hal ini tidak membatalkan shalat, namun dikhawatirkan bagi yang baru belajar khusyu‘ dalam shalat akan mengalami kesulitan. Maka disunnahkan untuk melamakan ruku‘ dan sujud dan memperbanyak doa didalamnya, dengan tujuan agar selama shalat tetap terjada kekhusyu’annya.
  5. Sunnah hukumnya untuk merenungi bacaan shalat agar tetap khusyu‘. Contohnya ketika membaca surah Al-Fatihah, selain dibaca secara lisan sehingga seminimal minimalnya telinga kita sendiri mendengar, dibaca juga arti dari tiap ayatnya didalam hati. Tujuannya untuk menjaga khusyu’ dalam hati.
  6. Menurut kesepakatan para ulama, makruh hukumnya memejamkan mata ketika shalat. Hal ini dinilai makruh karena dengan memejamkan mata, dikhawatirkan orang bisa tertidur dan terganggu khusyu’ dalam hatinya karena terbayang hal hal lain diluar shalat. Namun, apabila disekitarnya terdapat hiasan hiasan atau hal hal lain yang dapat mengganggu shalat melalui pandangan, maka dibolehkan untuk memejamkan mata.
  7. Membuat sutrah sebelum shalat dan mendekatkan diri ke sutrah. Sutrah adalah segala sesuatu yang berdiri atau sengaja diletakkan didepan orang yang sedang shalat, dapat berupa tongkat, tas, dinding, atau semacamnya, untuk mencegah orang lewat didepannya. Membuat sutrah ini hukumnya sunnah. Tujuannya agar orang lain tidak lewat didepan kita yang sedang shalat dan mengganggu kekhusyu’an shalat kita.
  8. Meminimalisir gerakan diluar gerakan shalat, seperti dengan tidak berpaling ke kiri dan ke kanan dan mengayun ayunkan tangan setelah bangkit dari ruku‘. Cara yang paling aman agar shalat kita tetap sah dan sempurna serta terjaga khusyu’nya adalah dengan shalat seperti bagaimana Nabi melakukannya. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa sallam bersabda : „Sholatlah kalian seperti kalian melihatku shalat.“ (HR.Bukhari). Sehingga wajib hukumnya untuk mempelajari tata cara shalat yang benar sebagaimana yang telah diajarkan Nabi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s