Rangkuman Kajian Idul Adha 2017

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Berikut rangkuman kajian Idul Adha 2017

Yang pertama mengenai istilah, makna idul adha di berbagai daerah atau negara juga berbeda beda dan masing masing mempunyai istilah dan tekanan. Namun seluruhnya mempunyai akar kata yang sama yaitu Dhuha. Di Indonesia juga disebut istilah lebaran haji karena pada saat itu memang diselenggarakan ibadah haji.

Sejarah kapan qurban pertama kali diselenggarakan terdapat pada surat Al-Maidah ayat 27:

Surah Al-Maeda, Verse 27:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam perjalanan zaman, terdapat banyak pengaruh kebudayaan, ekonomi, sosial yang menjadikan manusia manjauh dari Allah, dan ada waktu dimana manusia sendiri karena berharga nya, sempat untuk dikorbankan. Seperti pada suku Aztecs, mereka mengorbankan manusia ,yaitu mengambil hati dan darah untuk dipersembahkan kepada dewa dewa mereka. Bahkan di Yunani, mereka mengorbankan wanita wanita tercantik agar mereka memenangkan peperangan.

Sampai pada zaman nabi Ibrahim, orang orang mulai berpikir kembali apabila nyawa manusia terlalu berharga untuk dikorbankan. Sehingga mereka berpikir untuk tidak lagi mengorbankan manusia terhadap hal apapun. Pada saat itu datanglah syariat melalui ayat ayat Allah, yaitu perintah untuk menyembelih nabi Ismail, anak pertama nabi Ibrahim karena diperintah oleh Allah. Peristiwa tersebut menujukkan bahwa kekuasaan Allah jauh lebih besar daripada nyawa manusia, dan lebih utama daripada hukum atau syariat manusia pada zaman tersebut.

Surah As-Saaffat, Verse 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dari perintah Allah tersebut dapat kita ambil beberapa makna,
Pertama, jika Allah memerintahkan sesuatu, maka wajib umat manusia untuk melakukannya, pun dalam hal ini untuk menyembelih manusia
Kedua, makna menyembelih hewan adalah untuk menghilangkan sifat sifat kebinatangan / negatif dari diri kita, semisal rakus, menang sendiri, dan sebagainya

Jika dilihat dari kronologisnya, setelah mendapat mimpi dari Allah, pada tanggal 8 Dzulhijjah, nabi Ibrahim berikhtiar mencari makna dari mimpi tersebut. Pada tanggal 9 Dzulhijjah, yg kemudian kita sebut sebagai hari Arafah, akhirnya nabi Ibrahim berhasil mengetahui makna dari mimpi tersebut dan kemudian menyampaikannya ke putra beliau, nabi Ismail seperti yg telah diterangkan dalam surah As-Saafat ayat 102. Pada tanggal 10 Dzulhijjah nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih nabi Ismail. Karena sifat Allah yg Ar-Rahman dan Ar-Rahim serta kesempurnaan keimanan nabi Ibrahim dan Ismail, nabi Ismail ditukar dengan Domba dan tidak jadi disembelih.

Urutan Haji : setelah berihram di miqat, pertama jamaah melakukan tawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, dilanjut mabit di Mina sembari menyiapkan perbekalan untuk wuquf di Arafah. Setelah wuquf, malamnya mereka bermalam di Mudzalifah. Kemudian dilanjut dengan tahapan lempar jumrah, sa’i dan tahalul. Terakhir jamaah kembali ke Mekkah untuk tawaf sebanyak 7 kali menutup ibadah haji mereka.

Adapun syarat syarat berqurban antara lain : hewan ternak yang cukup umur, tidak cacat, ada hak sah seseorang yang mengizinkan untuk qurban, bukan hasil curian atau mendapat dengan cara yang tidak diajarkan agama.

Beberapa pelajaran penting dibalik penyembelihan hewan qurban yaitu , pengabdian dan keikhlasan pendekatan diri yang disyariatkan oleh Allah SWT, pelajaran selanjutnya yaitu mempererat hubungan baik dengan sesama seperti tercantum dalam surat berikut ini:

Surah Al-Hajj, Verse 36:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Bagaimana dengan orang yang tidak mampu untuk berqurban?
Inti sebenarnya selain dari poin poin di atas yaitu kita dianjurkan untuk selalu berakhlak yang baik dan selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan

Bahasan selanjutnya yaitu makna idul adha ditinjau dari ajaran nabi Muhammad saw, berikut ayatnya :
Surah Al-Maeda, Verse 3:
……. الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

………. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ayat di atas menuntun kita bagaimana merayakan idul adha, yang pertama dari ajaran syariat dan hukum sendiri sudah sempurna, sehingga kita diwajibkan menanamkan kembali kesadaran tentang banyak nikmat Allah yang telah kita terima dan nikmat yang paling dahsyat adalah nikmat Islam dan iman, selanjutnya menanamkan kesadaran tentang berserah diri adalah dengan cara membalas nikmat Allah dengan melakukan ibadah yang salah satunya yaitu berqurban, dan juga selalu khusuyk dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s