Keluarga Harmonis

Pengajian Keluarga 2016

Pemateri : Nugroho Fredivianus

Peresume : Satrio H Wicaksono

Assalamu’alaikum wr wb.

Keluarga merupakan bagian dari aspek kehidupan tiap manusia. Sebagai muslim perlu kita mengetahui bahwa pada hakikatnya kehidupan di dunia dapat diumpamakan sedetik dari ribuan bahkan jutaan tahun yang akan kita lalui di akhirat nanti.

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, jika mereka mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabut: 64)

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.”
(HR. Bukhari)

Menyadari akan hal itu, hal yang kemudian harus kita sadari bahwa sesungguhnya kita (manusia) di ciptakan hanya untuk beribadah.

Menikah adalah salah satu bentuk dari ibadah dan juga merupakan awal untuk membentuk kebahagiaan dalam keluarga. Dalam sebuah pernikahan terdapat sebuah perjanjian yang pada dasarnya mengikat antara tiga pihak, sang suami kepada istri dan kepada Allah, sang istri kepada suami dan Allah, dan Allah menjadi saksi atas perjanjian mereka tersebut.

Kita semua tahu bahwa Al-Quran merupakan esensi dari kehidupan kita sebagai muslim. Kita percaya akan kebenaran semua isinya. Mengenai perjanjian, disebutkan tiga perjanjian yang diabadikan dalam Al-Quran dan yang kemudian perlu kita ingat ini merupakan sesuatu yang penting, perjanjian-perjanjian tersebut adalah:

  1. Mengambil perjanjian dengan bani Israil (QS. 4:154)
  2. Perjanjian dengan para nabi Ulul-Azmi (QS. 33:7)
  3. Perjanjian mengenai pernikahan

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

(QS. An-Nisaa:21)

Setelah menyadari seberapa penting dan seriusnya perjanjian yang telah dibuat melalui proses pernikahan, perlu juga kita mengetahui tujuan dari pernikahan yaitu :

  • Mewujudkan ketenangan, mawaddah dan rahmat (kasih dan sayang)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

(QS. Ar-Ruum:21)

  • Melanjutkan keturunan

Disebutkan dalam suatu Hadist bahwa sesungguhnya Rasulullah nanti akan berbangga dengan banyaknya jumlah umat muslim yang ada.

« تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ »

 “Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian kepada umat-umat yang lain.”

(HR. Abu Dawud: 2050)

  • Menghindarkan dosa
  • Mempererat tali silaturahim

Menikah tidak hanya melibatkan dua individu tetapi juga mempersatukan dua keluarga besar antara pihak pria maupun pihak wanita.

  • Sebagai sarana dakwah
  • Menggapai ridha Allah – inilah tujuan dari segala tujuan (ghayatu al-ghayah) dari pernikahan

Pernikahan merupakan bentuk dari ibadah dan ibadah semata-mata hanya berharap ridha dari Allah.

Dari beberapa tujuan pernikahan yang telah disebutkan, keluarga yang kelak akan terbentuk dari pernikahan ini kemudian diharapkan untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi seperti fungsi reproduksi, fungsi sosial, fungsi ekonomi, fungsi edukatif, fungsi protektif, fungsi religius, fungsi rekreatif, fungsi afektif, dan fungsi dakwah.

Secara garis besar fungsi-fungsi tersebut menjelaskan bahwa keluarga  memiliki banyak aspek yang harus dipenuhi oleh setiap anggota keluarga tersebut seperti dengan terbentuknya keluarga berarti ada tuntutan untuk meningkatkan standart kehidupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Contoh dalam segi edukasi dan agama ketika melalui keluarga terjadi sharing serta peningkatan kualitas ilmu baik ilmu dunia, kehidupan, maupun ilmu agama. Melalui terbentuknya keluarga juga diharapkan akan timbul rasa aman tentram serta nyaman sehingga dapat terbentuk “baiti jannati“ . Dakwah dimulai dari lingkungan yang kecil, yaitu keluarga. Dengan ini fungsi dakwah dapat terpenuhi ketika tiap anggota keluarga menyebarkan nilai-nilai kebaikan dimulai dari lingkungan terdekat mereka, sebagai contoh dapat kita ambil syair arab “Al-ummu madrosatul ula’, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” yang berarti “ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik”

Ketika ada salah satu fungsi yang tidak terpenuhi maka dikhawatirkan akan terbentuk keluarga yang kurang harmonis, sebaliknya ketika semua fungsi-fungsi tersebut dapat terpenuhi maka akan keluarga yang kokoh akan terbentuk. Demi mencapai keluarga yang kokoh tersebut kita diperintahkan untuk memenuhi fungsi-fungsi tersebut dimulai dari menjaga diri sendiri terlebih dahulu dan keluarga yang kita miliki yang tertera dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

َقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(QS. at-Tahrîm:6)

Perlu kita perhatikan kerasnya peringatan ini hingga dinyatakan agar kita menjaga diri dan keluarga agar tidak menjadi bahan bakar dari api neraka yang mungkin dapat kita bayangkan seandainya kita tidak sanggup kita tidak dihukum dibakar diatas api, melaikan menjadi pondasi dari nyalanya api neraka tersebut – na’udzubillah.

Untuk menuju keluarga yang harmonis, seperti yang telah disebutkan diatas yaitu : memegang erat pedoman Islam bahwa pernikahan adalah Mitsaqan Ghaliza (Perjanjian Yang Amat Kukuh), berusaha untuk menjalankan fungsi-fungsi sebagai keluarga, kemudian yang selanjutnya adalah sadar akan kewajibannya masing-masing.

Keluarga adalah masjid sebagai tempat memberi bekal keagama, madrasah sebagai sekolah yang mengajarkan ilmu dan nilai-nilai Islam, benteng sebagai tempat berlindung dari gangguan fisik maupun non-fisik, rumah sakit sebagai tempat merawat dan memelihara kesehatan jasmani dan rohani, barak sebagai tempat pelatihan anggota keluarga untuk menempuh perjuangan hidup diluar rumah.

Agar terwujudnya keluarga sebagai tempat-tepat tersebut, pentingnya peranan orang tua (suami dan istri) dalam memenuhi kewajibannya harus sangat diperhatikan.

Beberapa kewajiaban suami terhadap istri adalah :

  • Mempergaulinya secara ma’ruf
  • Memberinya nafkah, lahir dan batin

Nafkah tidak hanya berbentuk materi, bahkan jika ditinjau nafkah lahir yang diberikan suami tidak hanya berbentuk uang, melainkan memasak, hingga siap diatas piring juga merupakan kewajiban suami.

  • Mendidik istri

Apabila tidak dapat mendidik secara langsung maka wajib hukumnya bagi suami untuk mencarikan guru untuk istrinya. Mendidik tidak terbatas hanya pada ilmu dunia, tetapi juga ilmu agama. Hal ini kemudian yang akan menuntun pada generasi muslim yang cerdas

  • Menjaga kehormatan istri (dan keluarga)

Suami adalah pemimpin keluarga yang berarti menjaga kehormatan istri dan keluarganya adalah hal utama yang harus ia jaga sepanjang hidupnya. Tidak berkata sesuatu yang buruk mengenai istrinya, bahkan di depan anaknya. Kesalahan yang istri lakukan hendaknya disampaikan secara tertutup dan cara yang baik demi menjaga kehormatan yang dimiliki oleh sang istri.

Pentingnya hal-hal tersebut dikarenakan setelah menikah istri merupakan tanggung jawab suami dan lepas dari orang tua, maka ketika istri berbuat dosa, suami akan dimintai pertanggung jawaban begitupula dengan seorang ayah yang diminta pertanggung jawaban atas anak laki-lakinya atas apa yang ia perbuat hingga ia baliq dan atas anak perempuannya hingga ia menikah.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya (kaum wanitanya).”
(HR. Ahmad, Tirmidzi & Ibnu Majah)

Sebaliknya, kewajiban istri terhadap suami adalah :

  • Taat kepada suami

“Seandainya aku boleh menyuruh seseorang manusia bersujud kepada sesamanya, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya “

(HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban & Baihaqi)

Dari Hadist tersebut dapat kita lihat seberapa pentingnya ketaatan istri terhadap suami. Maka tidak patut kemudian jika seorang istri menentang suaminya tanpa alasan yang diperbolehkan oleh agama.

  • Totalitas dalam mengupayakan ridha suami

Seperti halnya ridha orang tua adalah ridha Allah bagi anak, begitu juga ridha suami pada istri. Totalitas untuk mendapat ridha suami kemudian dapat diwujudkan dengan membantu suami dengan ikhlas.

  • Menjaga kehormatan dan harta suami

Seperti halnya suami menjaga kehormatan istri, hal tersebut juga berlaku terhadap istri. Kemudian mengenai harta suami yang harus dijaga oleh istri. Harta suami milik keluarga, kemudian istri yang dipercaya untuk mengelola harta suami hendaknya mengelola dengan semaksimal mungkin.

  • Meminta izin ketika hendak bepergian dan puasa Sunnah

“Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.”
(HR. Nasa’i, Ahmad, Hakim & Baihaqi)

Kewajiban-kewajiban tersebut dapat dilaksanakan ketika keduanya sadar akan pentingnya komunikasi yang baik serta posisinya sebagai pemimpin atas dirinya masing-masing :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ, والأميرُ راعٍ, والرّجُلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ, والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya.

Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungtawaban atas kepemimpinan kalian.

(HR. Bukhari & Muslim)

Mengenai amalan-amalan yang kemudian dapat dilakukan untuk mendapat ridha Allah antara lain :

  • Berusaha menjaga iman dan taqwa
    • Giat dalam beribadah, khususnya shalat
    • Giat dalam melakukan kebaikan dengan tetangga dan masyarakat
    • Menjaga makanan dan minuman halal
    • Menutup aurat
    • Berkomitmen mendidik anak-anak agar menjadi anak yang shaleh/ah
  • Memiliki sikap mental
    • Bersyukur atas nikmat yang didapat
    • Bersabar ketika menghadapi kesulitan
    • Tawakal bila mempunyai rencana
  • Bekerja sama dalam tim
    • Musyawarah dalam menyelesaikan persoalan
    • Tolong menolong dalam kebaikan
    • Memenuhi janji bila berjanji
    • Segera bertobat bila berdosa dan meminta maaf bila bersalah
    • Saling berbaik sangka
    • Mempererat tali silaturahim dengan keluarga suami maupun istri
    • Menghiasi rumah dengan bacaan al-Qur’an
    • Membiasakan salam
    • Rajin dalam infaq dan sedekah
  • Menghindari maksiat, antara lain:
    • Syirik
    • Durhaka kepada orang tua dan mertua
    • Zina
    • Membunuh jiwa tanpa hak (aborsi)
    • Memakan riba, judi, miras dan sejenisnya
    • Meninggalkan atau malas melakukan ibadah dan kebaikan lainnya
    • Berteman dengan orang-orang buruk
    • Membuka aurat
    • Berakhlak buruk, suka menggunjing dsb.

Kemudian beberapa aspek detail mengenai cara untuk membentuk keluarga yang harmonis secara garis besar adalah :

  • Bibit yang baik
    • Suami maupun istri menyadari dan menjalankan kewajibannya masing-masing
    • Suami dan istri memberikan keteladanan, baik kepada pasangan maupun kepada anak-anak
  • Perhatian yang berimbang
    • Komunikasi yang terbuka dan dilandasi semangat memperbaiki
    • Pendidikan yang memadai dalam empat dimensi manusia: spiritual, intelektual, emosional dan jasmani
  • Lingkungan yang baik
    • Area hunian
    • Sekolah dan komunitasnya
    • Media massa
    • Sosial media
  • Pengasuhan yang optimal
    • Usaha berkesinambungan
    • Doa tanpa terputus

Untuk memulainya ada baiknya kita mulai dari hal-hal kecil pada pasangan seperti menerima pasangan apa adanya serta memahami latar belakangnya, mencaritahu hal-hal yang sensitive atau yang tidak disukai, ambil pelajaran dari konflik dan saling berbagi pengalaman, memperhatikan kebaikan dan kelebihan pasangan sehingga kita dapat melihat sisi positif dri pasangan, mendengar pendapatnya dan menjalin hubungan baik dengan lingkungan sekitarnya, menghindari memvonis dalam situasi apapun, serta menjaga lisan, tulisan, dan hati

Sebagai penutup ada beberapa doa yang baiknya kita amalkan agar diberikan keluarga yang harmonis serta diberi keridhaan oleh Allah, dihindarkan dari api neraka serta dapat menjadi genesari muslim yang kuat serta taat.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. (QS. Al-Furqan: 75)

Wassalamualaikum wr wb.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s